Disamping itu pasar serat daun nanas kurang optimal. Jika pasar Eropa dan Asia masih gencar dengan serat daun nanas, di Indonesia sendiri masih belum maksimal dalam pengelolaan serat daun nanas. Masalah yang muncul diantaranya :
1. Belum adanya teknologi yang mampu menghasilkan serat berkualitas sebaik cara manual untuk kuantitas yang tinggi. Di beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta sudah membuat alat/mesin pemisah serat. Sayangnya mesin yang disebut Dekotikator tersebut belum mampu menghasilkan serat sehalus pemisahan secara manual.
2. Belum adanya teknologi yang mampu menyambungkan serat dengan sangat halus, sehingga penyambungan terbaik dilakukan dengan cara manual.
3. Belum ada pengembangan desain dari serat daun nanas sehingga secara visual dan struktural, desain tekstil serat daun nanas tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Nah... sekarang ini adakah yang bisa membantu masyarakat pengrajin serat daun nanas berdasarkan masalah diatas??? saya sendiri mencoba memecahkan salah satu masalah yang muncul, khususnya mengenai desain (karena study saya tentang desain.. hehehehe). Diharapkan tulisan ini bisa memacu peneliti-peneliti lainnya, khususnya yang bergelut di dunia teknologi dan permesinan untuk membantu masyarakat di Indonesia agar dapat mengembangkan diri dan memberikan sumbangsih kepada negara dengan mengekspor hasil-hasil kerajinan masyarakat khusunya di Pedesaan. Bila masalah di bagian hulu ini dapat terpecahkan, Insya Allah dibagian hilirpun akan berkembang dengan sendirinya. Sehingga produk yang dihasilkanpun tidak kalah bagusnya dengan produk sejenis buatan luar negeri.